Rabu, 20 September 2017

SWAFOTO BERSAMA PANITIA BTOPH



 KRONOLOGIS:

Pada hari Selasa, 19 September 2017, di perjalanan menuju kampus kami tercinta (r: Kesehatan Masyarakat UNSOED), kelompok kami (r: AKK BTOPH) bertemu dengan ketiga panitia BTOPH. Kami bertemu dengan ketiga panitia tersebut di lobby Kesehatan Masyarakat UNSOED yang kebetulan sedang duduk di sofa. Yang gambar pertama kami mengajak mbak Stefani yang merupakan panitia bagian Acara di BTOPH 2017, untuk yang ke 2 kelompok kami mengajak mas Samir/Amir yang merupakan panitia bagian komisi disiplin, dan yang terakhir kami mengajak mas Kinaryo untuk melakukan swafoto bersama dan beliau pun sama seperti mas Samir/Amir yang merupakan bagian dari panitia komisi disiplin.

Minggu, 17 September 2017

BIOGRAPHY OF RAFFAELE COSTA

Raffaele Costa (born 8 September 1936 in Mondovì) is an Italian politician. He was the President of the Province of Cuneo from June 2004 to June 2009. He was previously a member of the Italian Chamber of Deputies representing the Italian Liberal Party and later Forza Italia between 1976 and 2003 and was also a Member of the European Parliament of the European People's Party until June 2004.

EducationEdit

Costa holds a degree in Law and Political Science.

Parliamentary careerEdit

He was elected to the Italian Chamber of Deputies in 1976, 1979, 1983, 1987, 1992, 1994, 1996 and 2001.

As MinisterEdit

He was Minister without Portfolio for the co-ordination of community political and regional affairs (1992), Minister of Health (1993), Minister of Transport and Minister of the Merchant Marine in the Ciampi government.

As Under-Secretary of StateEdit

Costa was parliamentary under-secretary of state in the:
  • Ministry of Justice
  • Ministry of Foreign Affairs (8th Legislature)
  • Ministry of the Interior (Craxi Government)
  • Ministry of Public Works (9th Legislature)

In the European ParliamentEdit

Other Past AppointmentsEdit

  • Chairman of the Defence Committee of the Chamber of Deputies
  • Vice-Chairman of the Agriculture and Forestry Committee of the Chamber of Deputies (1976-1979)
  • General Secretary of the Italian Liberal Party (1993-1994)
  • Chairman of the Liberal Democratic Federalist parliamentary group (1995-1996)
  • Administrator of Forza Italia's Office for Citizens' Rights
  • President of the Province of Cuneo (2004-2009).

AuthorEdit

Costa has published four books:
  • The Doctor is Outside the Room
  • My First Republic
  • Italy, Land of Waste
  • Italy, Land of Privilege

PublisherEdit

He founded and published the periodical Il Duemila in 1971.

REVIEW MATERI BTOPH 2017

Kegiatan basic training of public health yang dilakukan tanggal 16 set – 17 sept 2017 memiliki banyak manfaat yang dapat diambil, diantaranya adalah penjelasan materi-materi mengenai miracle dalam kesehatan masyarakat, pemberdayaan masyarakat lewat pengabdian mashasiswa baru, dan juga advokasi.
Materi yang pertama adalah miracle oleh Dr. Sc. Hum. Budi Aji, SKM, M. Sc.. Mahasiswa didefinisikan sebagai seseorang yang dewasa. Mahasiswa tentunya sudah mengerti dan paham hal apa saja yang harus mereka lakukan, dan hal apa saja yang harus mereka tinggalkan. Mahasiswa dinilai sebagai seorang yang sudah tau dan mengenal dengan baik masalah skala prioritas. Untuk itulah sebagai mahasiswa sudah seharusnya melatih kemampuan. Jadikan kampus sebagai wadah untuk mengembangkan diri. Usahakan segala sesuatu yang dilakukan menghasilkan hal yang bermanfaat. Jangan sekali-kali sesuatu yang dilakukan tidak memberikan manfaat apa-apa. Karena, justru di usia inilah yang menjadi ajang kita untuk menggali dan mengembangkan segala potensi yang ada pada diri kita. Usahakan segala sesuatu yang dilakukan berasal dari keinginan di hati. Karena apabila segala sesuatunya berasal dari keinginan di hati, maka kita akan menjalankannya dengan menyenangkan tanpa terbebani oleh sesuatu hal.
Mahasiswa tersebut natinya akan merasakan bagaimana rasanya sebagai seorang sarjana. Tak terkecuali mahasiswa kesehatan masyarakat. Seorang mahasiswa sarjana kesehatan masyarakat harus bisa serta mampu melayani dan melakukan upaya pencegahan (preventif) untuk masyarakat, mempunyai sebuah impian supaya bisa digapai dan mempunyai pemikiran yang positif. Seorang sarjana kesehatan masyarakat juga harus bisa survive. Saat memasuki dunia pekerjaan, dalam pasar kerja terdapat tiga kompetensi yang dibutuhkan. Tiga kompetensi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Computer Literacy
2.      Critical System Thinking
3.      Ability to Serve
Yang harus kita ketahui, pada saat for first timer job seeker, ada tiga hal yang menjadi poin penting. Tiga hal tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Positive energy and respect people
2.      Output oriented
3.      Taat terhadap aturan dan mampu melaksanakan tugas
Saat on the first timer job seeker, bukan hal yang tak mungkin apabila kita menemui beberapa hambatan. Hambatan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      No working experience
2.      Limited ability in human relation
3.      Low professional competencies
Seperti kebanyakan jurusan, jurusan Kesehatan masyarakat sendiri memiliki visi. Dimana visi tersebut dapat kita sebut dengan ‘MIRACLE’. MIRACLE memiliki arti tersendiri, yaitu sebagai berikut :
1.      M = Manager
2.      I = Innovator
3.      R = Researcher
4.      A = Apprenticer
5.      C = Communitarian
6.      L = Leader
7.      E = Educator
Dengan visi tersebut, diharapkan apabila lulusan sarjana kesehatan masyarakat mampu menjadi agen of change yang mampu memecahkan masalah kesehatan. Tujuan utama sarjana kesehatan masyarakat bisa menjadi satuan pendidikan dan agen pencegahan (preventif) terhadap kesehatan masyarakat. Karena itulah, seorang sarjana kesehata masyarakat harus mempunyai wawasan yang luas dan berilmu seperti hal berikut :
1.      Knowledge driven model
2.      Problem solving model
3.      Interactive model
4.      Elightemend model
Apabila berbicara mengenai prospek kerja sarjana kesehatan masyarakat tentunya hal tersebut sangat banyak sekali jenisnya. Seorang sarjana kesehatan masyarakat mempunyai banyak peluang dan kesempatan di banyak tempat yang tersebar di negeri ini. Hal tersebut diantaranya adalah sebagai  berikut :
1.      BPJS Kesehatan
2.      Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK)
3.      Penyuluhan tentang kesehatan
4.      Sanitarian
5.      Kepala Puskesmas
6.      Ahli kesehatan lingkungan industry
7.      Epidemologi kesehatan
Melihat prospek kerja di atas, sebagai mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat kita harus yakin dan percaya akan kesuksesan. Kita harus terus berjuang dalam mewujudkan cita-cita untuk menggapai sebuah kesuksesan. Dengan paham dan mengerti lebih jauh tentang kesehatan masyarakat, maka nantinya tergambar pula mengenai prospek karir di bidang kesehatan masyarakat untuk beberapa tahun mendatang.
Matei yang kedua adalah mengenai pemberdayaan dan penyuluhan masyarakat lewat pengabdian mahasiswa baru oleh Raditya Pradipta, SKM. Jurusan kesehatan masyarakat memiliki desa binaan tersebut berada di Desa Gandatapa. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, akan dilakukan beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Penyuluhan dalam bidang edukasi atau pembelajaran terlebih dahulu
2.      Melakuakan penyadaran
3.      Motivasi masyarakat yang bertujuan untuk pemberitahuan wawasan
4.      Mempercayakan diri
Pemberdayaan masyarakat sendiri memiliki prinsip atau langkah-langkah. Prinsip atau langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Persiapan
Dalam persiapan, kita harus mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan sebuah penyuluhan untuk masyarakat. Baik itu dalam bentuk materi ataupun dalam bentuk yang lainnya.
b.      Pengkajian
Dalam pengkajian sendiri kita perlu melakukan studi kasus penyuluhan itu sendiri, apa yang sekiranya masyarakat bisa dapatkan dan apa yang telah kita beri untuk masyarakat. Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan.
c.       Perencanaan
Dalam hal perencanaan disini membicarakan mengenai rencana tentang apa saaja yang akan kita lakukan saat penyuluhan itu berlangsung. Dan apa saja kira-kira yang harus kita beri untuk masyarakat.
d.      Pelaksanaan
Pada proses pelaksanaan sangat penting untuk diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan, pada tahapan ini berbagai cara harus dikerahkan demi tercapainya tujuan dari penyuluhan tersebut. Apabila dalam proses ini terjadi kegagalan, maka sudah dapat dipastikan bahwa penyuluhan yang dilakukan juga gagal, dan apa yang menjadi tujuan dari penyuluhan tersebut tidak berhasil untuk tersalurkan.
e.       Monitoring dan Evaluasi
Pada proses moitoring dan evaluasi, kita akan mendapatkan hasil berupa sukses atau tidaknya kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan. Dalam tahapan ini, kegiatan penyukuhan dapat disimpulkan menghasilkan suatu kesuksesan atau justru malah sebaliknya.
Dalam melakukan sebuah pengabdian kepada masyarakat, tentunya telah terdapat beberapa tahapan-tahapan pemberdayaan masyarakat. Yang dimana tahapan-tahapan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Penyadaran
Dalam tahapan penyadaran sendiri terdapat hal-hal seperti motivasi dan kepercayaan diri. Kita sebagai pelopor perubahan kesehatan di lingkunagn masyarakat harus mampu dan bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang cara menjaga kesehatan agar mereka (masyarakat tersebut) mendapat pengetahuan dan gambaran apa arti sehat yang sesungguhnya. Hal ini penting dalam rangka menumbuhkan mindset bahwa sehat itu penting. Selain itu, hal tersebut juga dapat memberi semangat dan juga motivasi agar mereka (masyarakat tersebut) dapat merubah pola ataupun gaya hidup yang dinilai tidak sehat dan pantas untuk ditinggalkan.
2.      Peningkatan kemampuan
Dalam tahapan peningkatan kemampuan mengandung beberapa hal seperti pengetahuan. ketrampilan, dan juga perilaku. Maksudnya adalah, sbagai pelopor perubahan kesehatan di lingkungan masyarakat harus mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan juga perilaku yang dapat mendukung wujud nyata terealisasikannya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang ada di Indonesaia. Jadi, kita harus mempunya pengetahuan, ketrampilan, dan juga perilaku yang menjadi modal dalam pelopor perubahan kesehatan demi menuju derajat kesehatan yang lebih baik lagi.
            Agar kegiatan penyuluhan yang dilakukan masuk dalam kegiatan penyuluhan yang baik. Maka terdapat beberapa cara atau metode-metode yang dapat dilakukan. Metode-metode tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Kenali sasaran dengan baik
Sebelum melakukan penyuluhan disuatu tempat, hal pertama yang wajib kita lakukan adalah mengenali situasi dan kondisi daerah sasaran dengan baik.
2.      Kuasai materi dengan baik
Dengan penguasaan materi yang baik, maka dalam melakukan penyuluhan rasa percaya diri akan tercipta. Penguasaan materi juga mampu menghipnotis masyarakat sasaran penyuluhan untuk turut serta mengikuti hal-hal yang disebutkan dalam penyuluhan.
3.      Rencana kegiatan yang terstruktur
Renaca kegiatan yang terstruktur akan membuat kegiatan penyuluhan yang dilakukan lebih tertata sehingga tujuan dari diadakannya penyuluhan dapat lebih mudah untuk terealisasikan.
Materi yang ketiga adalah advokasi oleh Rizki Bahari Aritonang. Advokasi adalah upaya persuasi yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi, serta rekomendasi tindak lanjut mengenai suatu hal atau kejadian. advokasi bermakna sebagai suatu bentuk usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik dengan berbagai macam pola komunikasi persuasif.
Tujuan umum Advokasi adalah : Diperolehnya komitmen dan dukungan dalam upaya kesehatan, baik berupa kebijakan, tenaga, dana, sarana, kemudahan, keikut sertaan, dalam kegiatan, maupun berbagai bentuk lainya sesuai keadaan dan usaha.
Tujuan khusus
1.      Adanya pengenalan atau kesadaran.
2.      Adanya ketertarikan atau peminatan atau tanpa penolakan.
3.      Adanya kemauan atau kepedulian atau kesanggupan untuk membantu dan menerima perubahan.
4.      Adanya tindakan/ perbuatan/kegiatan yang nyata (yang diperlukan).
5.      Adanya kelanjutan kegiatan(kesinambungan kegiatan).
Tahapan advokasi diantaranya ada empat. Hal tersebut yaitu kajian, lobbying, audience, dan yang terakhir aksi. Tahapan audience dan aksi sendiri dapat disatukan menjadi satu tahapan.  Dimana pada saat tahapan tersebut, sudah dikerahkan beberapa massa yang merasa senasib dan sepenanggungan. Dikerahkannya massa tersebut bertujuan agar yang dituntut tahu dan paham seberapa banyak orang yang mendukung aksi tersebut.
Jenis-jenis advokasi jika dilihat dari segi masalah, advokasi bisa digolongkan menjadi 3, yaitu advokasi diri, advokasi yang dilakukan pada skala lokal dan bahkan sangat pribadi; advokasi kasus, advokasi yang dilakukan sebagai proses pendampingan terhadap orang atau kelompok yang belum memiliki kemampuan membela diri dan kelompoknya dan advokasi kelas, yaitu sebuah proses mendesakkan sebuah kebijakan publik atau kepentingan satu kelompok masyarakat (dalam hal ini pelajar dan remaja) dengan tujuan akhir terwujudnya perubahan sistematik yang berujung pada lahirnya produk perundang undangan yang melindungi atau berubahnya legislasi yang dianggap tidak adil.
Perlu diketahui pula bahwa advokasi juga bisa hidup dalam ruang lingkup kampus atau universitas. Advokasi dalam kampus lebih mengarah kepada menangani aspirasi mahasiswa maupun mahasiswi. Kita ambil contoh saja, Universitas Jendral Soedirman, sudah memiliki sebuah organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa UNSOED. Dimana didalam organisasi ini terdapat sebuah badan advokasi.yang mengurusi dan melindungi hak-hak mahasiswa maupun mahasiswi.
Advokasi secara umum memiliki persamaan dan perbedaan dengan advokasi dalam kampus. Persamaannya tentulah terletak pada usaha yang sistematis dan terorganisir dalam membela dan melindungi hak-hak serta memberikan sokongan terhadap perubahan kebijakan publik. Yang menjadi perbedaannya hanyalah dari subyeknya, kalau advokasi dalam kampus atau universitas lebih mengarah kepada membela dan melindungi mahasiswa maupun mahasiswi yang mengemban pendidikan di kampus atau universitas terkait. Intinya satu, Advokasi bukanlah gerakan yang ditujukan untuk segelintir orang dengan sejumput keinginan untuk memuaskan keinginan sendiri. Perlu ada upaya merangkul pihak-pihak lain sebanyak mungkin.
Beberapa prinsip prinsip dibawah ini bisa dijadikan pedoman dalam melakukan advokasi, yaitu sebagai berikut:
1.      Realitas
Memilih isu dan agenda yang realistis, jangan buang waktu kita untuk sesuatu yang tidak mungkin tercapai.
2.      Sistematis
Advokasi memerlukan perencanaan yang akurat, kemas informasi semenarik mungkin dan libatkan media yang efektif.
3.      Taktis
Advokasi tidak mungkin bekerja sendiri, jalin koalisi dan aliansi terhadap sekutu. Sekutu dibangun berdasarkan kesamaan kepentingan dan saling percaya.
4.      Strategis
Kita dapat melakukan perubahan-perubahan untuk masyarakat dengan membuat strategis jitu agar advokasi berjalan dengan sukses.
5.      Berani
Jadikan isu dan strategis sebagai motor gerakan dan tetaplah berpijak pada agenda bersama.



Sabtu, 16 September 2017

Jurnal Kesehatan Masyarakat

Korespondensi: Qomariyatus Sholihah, Departemen K3 IKM FK Universitas
Lambung Mangkurat, Jl. A. Yani Km 36,3 Banjarbaru 70714 Kalimantan
Selatan, No. Telp: 05114772747, email: qoqom_kuncoro@yahoo.co.nz
Abstrak
Penambangan batu bara merupakan salah satu sumber pencemaran udaraberupa partikel debu batu bara yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan bila terhirup manusia. Risiko kerja yang sering terjadi dapat berasaldari faktor pekerjaan atau perilaku pekerja sendiri, di antaranya sif kerja dan
masa kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa kerja, dan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) denganfungsi paru pekerja tambang batu bara. Penelitian ini merupakan desain kasus kontrol dengan jumlah masing-masing sampel untuk kasus dan kontrol
ebesar 178 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober -
November 2014 di PT. X Kalimantan Selatan. Hasil penelitian berdasarkan
uji kai kuadrat, didapatkan nilai p = 0,044 untuk sif kerja, 0,028 untuk masa
kerja, dan 0,013 untuk budaya K3. Berdasarkan hasil uji regresi logistik, didapatkan nilai p sif kerja 0,01 dengan OR = 3,934. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara sif kerja dengan fungsi paru, dan tidak terdapat hubungan antara masa kerja dan budaya K3 dengan fungsi paru. Sif
kerja merupakan variabel independen yang paling dominan memengaruhi
fungsi paru.
Kata kunci: Fungsi paru, keselamatan dan kesehatan kerja, masa kerja, sif
kerja
Abstract
Coal mining is one source of air pollution caused in form of coal dust particle that may interfere with health of breathing if inhaled by human.Occupational risks often occurred may come from occupational factor orworker’s behavior itself, ones of which are work shift and work period. Thisstudy aimed to determine relations of work shift, work period and occupational health and safety (OHS) culture with lung function of coal miningworker. This study was control case design with each amount of sample forcase and control was 178 respondents. The study was conducted onOctober – November 2014 at PT X in South Kalimantan. Results based on
chi-square test showed p value = 0.044 for work shift, 0.028 for working period and 0.013 for OHS culture. Based on logistic regression test results, p
value for work shift was 0.01 with OR = 3.934. As a conclusion, there is a
relation between work shift with lung function and no relation between working period and OHS culture with lung function. Work shift is an independent
variable most dominantly influencing the lung function.
Keywords: Lung function, occupational health and safety, working period,
work shift
Pendahuluan
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan
suatu upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang
aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah menciptakan
produktivitas setinggi-tingginya. K3 mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali.
Pelaksanaan K3 dapat mengurangi kecelakaan kerja sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas
kerja.1
Penambangan batu bara merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang dihasilkan dari partikel debu
batu bara. Partikel debu tersebut dapat menyebabkan
gangguan pernapasan bila terhirup manusia. Risiko kerja yang sering terjadi dan banyak menimbulkan kerugian
adalah penyakit paru kerja yang timbul akibat pajanan
debu batu bara dalam jangka waktu lama, yaitu
pnemokoniosis, bronkitis kronis, dan asma kerja.2,3
Setiap tahun di seluruh dunia, dua juta orang mengalami penyakit akibat kerja. Dari jumlah tersebut, terdapat 40.000 kasus baru pneumokoniosis.4 Menurut
Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya Keselamatan
dan Kesehatan Kerja dengan Fungsi Paru Pekerja
Tambang Batu Bara
Analysis of Work Shift, Working Period, and Occupational Health and
Safety Culture with Lung Function of Coal Mine Workers
Qomariyatus Sholihah*, Aprizal Satria Hanafi**, Wanti***, Ahmad Alim Bachri****, Sutarto Hadi*****
*Departemen K3 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
**Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
***Politeknik Kesehatan Kupang, Indonesia, ****Fakultas Ekonomi, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
*****Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia
25
International Labor Organization (ILO) tahun 2013,2,34 juta orang meninggal setiap tahunnya karenapenyakit akibat kerja. Di Jepang, pada tahun 2011, salahsatu penyakit akibat kerja yang paling besar angkanyaadalah pneumokoniasis, sama halnya dengan di Inggris.5Angka sakit di Indonesia mencapai 70% dari pekerjayang terpapar debu tinggi. Sebagian besar penyakit paruakibat kerja memiliki akibat yang serius, yaitu terjadinyagangguan fungsi paru dengan gejala utama yaitu sesaknapas.6Kejadian penyakit akibat kerja tersebut diperkirakan
akibat dari faktor ekstrinsik seperti faktor lingkungan
dan faktor perusahaan serta faktor intrinstik seperti perilaku, sikap, dan kedisiplinan.7 Penerapan implementasi
program K3 akan memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan produktivitas kerja.8
Salah satu faktor yang menyebabkan gangguan fungsi
paru adalah sif kerja. Pekerja tambang batu bara memiliki waktu sif siang (pagi, siang, sore) dan sif malam.
Permasalahan lebih banyak terjadi pada pekerja sif
malam karena irama faal tubuh manusia yang tidak dapat menyesuaikan kerja malam dan tidur.9 Kerja sif
malam merupakan sistem yang berlawanan dengan irama
sirkadian. Kelainan pola tidur sebagai salah satu bentuk
gangguan irama sirkadian yang dialami pekerja sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar
sitokin proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan dalam tubuh.10
Penyakit pernapasan tidak hanya disebabkan oleh
debu saja, melainkan dari karakteristik individu seperti
masa kerja yang terkait dengan tingkat pajanan. Masa
kerja penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan debu lingkungan. Selain itu,
kebiasaan merokok juga merupakan salah satu kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Seorang perokok memiliki risiko kematian 20 kali
lebih besar akibat kanker paru dibandingkan yang
bukan perokok.11 Seseorang yang semakin lama bekerja pada tempat yang mengandung debu, akan semakin
tinggi risiko untuk terkena gangguan kesehatan, terutama gangguan saluran pernapasan.12 Penelitian yang dilakukan pada pekerja tambang batu bara di Kalimantan
Timur tahun 2012 diperoleh sebanyak 45,1% yang
mengalami gangguan fungsi paru obstruktif dengan
masa kerja > 5 tahun dan 16,7% yang masa kerjanya <
5 tahun.13 Menurut Kaligis,8 implementasi program K3
akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
peningkatan produktivitas kerja. Impelementasi K3
mampu mengurangi angka kecelakaan kerja sehingga
pekerja dapat bekerja dengan lebih baik dan mengurangi angka absensi kerja akibat kecelakaan kerja atau
penyakit akibat kerja.
Berdasarkan data yang diperoleh dari audit internal
PT X tahun 2014, kadar debu di bagian produksi mencapai 4,8 mg/m3. Sedangkan menurut National Institute
of Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 2011,
nilai ambang batas untuk debu batu bara adalah 2
mg/m3. Debu tersebut akan meningkatkan risiko gangguan paru pada pekerja tambang. Semakin lama seorang
pekerja terpajan, maka risiko gangguan paru akan semakin meningkat jika tidak disertai dengan penerapan
K3 yang baik.14
Berdasarkan hasil data klinik di PT X didapatkan
penyakit pekerja adalah sesak napas, common cold, dan
flu. Penelitian tentang kesehatan pekerja di tambang batu
bara PT X perlu dilakukan agar dapat diketahui penyebab keluhan pekerja dan diharapkan dapat meminimalkan penyakit akibat kerja dan tujuan akhirnya dapat
meningkatkan produktivitas pekerja. Tujuan umum
penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa kerja, dan budaya K3 dengan fungsi paru pekerja tambang batu bara di PT X.
Metode
Desain studi yang digunakan pada penelitian ini
adalah kasus kontrol untuk mengamati variabel dependen, yaitu gangguan fungsi paru dan variabel independen, yaitu sif kerja, masa kerja, dan budaya K3. Pada
penelitian ini digunakan perbandingan kasus dan kontrol
adalah 1 : 1 sehingga jumlah kontrol sebanyak 178 orang.
Maka, jumlah sampel yang dibutuhkan pada penelitian
ini adalah 356 orang. Sampel diambil menggunakan
teknik simple random sampling. Sampel kelompok kasus
adalah seluruh pekerja tambang batu bara PT X bagian
produksi yang berjumlah 178 orang, sedangkan sampel
kelompok kontrol adalah karyawan bagian manajemen
kantor berjumlah 178 orang.
Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar isian
(data identitas dan kuesioner) dengan disertai persetujuan menjadi subjek penelitian, alat uji fungsi paru
(Spirometri) merek BLT-08 Spiro Pro Meter® dan
mouthpiece, timbangan berat badan untuk mengukur berat badan, dan meteran untuk mengukur tinggi badan.
Pengukuran menggunakan instrumen didampingi oleh
petugas medis dari pihak perusahaan. Kuesioner
dibagikan kepada responden untuk mengukur budaya K3
responden, kemudian fungsi paru responden diukur dengan menggunakan spirometri dan mouthpiece. Hasil
dikatakan normal jika besar volume udara yang dikeluarkan dalam satu detik pertama ≥ 80% dari kapasitas
fungsi paru dan dikatakan tidak normal jika < 80% dari
kapasitas fungsi paru. Sedangkan lembar isian digunakan
untuk mengetahui sif kerja dan masa kerja. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat dengan alpha 95%, kemudian dilanjutkan dengan analisis regresi logistik untuk
analisis multivariat dengan variabel sif kerja, masa kerja,
dan budaya K3. Penelitian ini dilakukan pada bulan
Oktober – November 2014 di PT X.
Sholihah, Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi Paru
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 2015
26
fungsi paru pekerja tambang batu bara sif siang ada yang
mengalami penurunan kapasitas fungsi paru di bawah nilai normal, yaitu FEV1 80%. Hal ini sesuai dengan
penelitian Hendryx and Melissa,15 membuktikan bahwa
risiko tinggi pekerja tambang batu bara terhadap terjadinya inflamasi yang menyebabkan risiko gangguan
fungsi paru. Dibuktikan oleh penelitian Sari Mumuya,16
pada tahun 2006 terhadap 299 laki-laki pekerja tambang
batu bara sif siang di Tanzania dengan nilai p = 0,04 (nilai p < 0,05) menunjukkan bahwa risiko bekerja di daerah pertambangan batu bara dapat menurunkan nilai
FEV1% 80.
Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat nilai kapasitas fungsi paru pekerja tambang batu bara sif malam
mengalami penurunan dibandingkan sif siang. Penurunan
kapasitas fungsi paru lebih banyak ditemukan pada
pekerja tambang batu bara sif malam. Sif malam menunjukkan penurunan FEV1%, Vmax50, Vmax25 lebih besar dibandingkan dengan sif pagi dan sif siang. Menurut
Zheng,10 sif malam merupakan sistem yang berlawanan
dengan ritme sirkadian. Kelainan pola tidur sebagai salah
satu bentuk gangguan ritme sirkadian yang dialami
pekerja sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar sitokin proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan dalam
tubuh. Hal ini didukung oleh penelitian Sholihah,17
Hasil
Hasil distribusi sif kerja, masa kerja, budaya K3 dan
fungsi paru pada pekerja tambang di PT X sinergi pada
Tabel 1. Tabel 1 memaparkan hasil berdasarkan analisis
univariat untuk mendapatkan distribusi fekuensi dari
masing-masing variabel independen (sif kerja, masa kerja, dan budaya K3) dan variabel dependen (gangguan
fungsi paru). Hasil penelitian menunjukkan kasus fungsi
paru tidak normal sebesar 57,9% meliputi obstruktif, restruktif maupun keduanya.
Tabel 2 menunjukkan hubungan antarvariabel independen dengan variabel dependen. Seluruh variabel
meliputi sif dan masa kerja, serta budaya 3 memiliki
hubungan yang bermakna secara statistik dengan nilai p
< 0,05. Variabel bebas yang berhubungan dengan variabel terikat (variabel sif kerja, masa kerja, dan budaya
K3) bersama dimasukkan dalam perhitungan uji regresi
logistik metode Enter. Sif kerja merupakan variabel bebas yang berpengaruh paling dominan dengan fungsi
paru (Tabel 3).
Pembahasan
Hasil penelitian dengan menggunakan uji kai kuadrat
menunjukkan terdapat hubungan antara sif kerja dan
fungsi paru pekerja tambang batu bara dikarenakan nilai
p < 0,05. Dalam penelitian ini, terdapat bahwa kapasitas
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kasus dan Kontrol Berdasarkan Variabel Independen
Variabel Kategori Kasus Kontrol Total
Sif kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%)
Malam 80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%)
Masa kerja <5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%)
≥5 Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%)
Budaya K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%)
Negatif 70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)
Fungsi paru Normal 75 (42,1%) 163 (91,6%) 238 (66,9%)
Tidak normal (obstruktif, 103 (57,9%) 15 (8,4%) 118 (33,1%)
restruktif, campuran)
Tabel 2. Analisis Bivariat Variabel Independen dengan Fungsi Paru
Variabel Kategori Kasus Kontrol Total OR 95% CI Nilai p
Sif kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%) 6,326 0,044
Malam 80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%) 1,829-21,001
Masa kerja < 5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%) 4,82 0,028
≥ 5 Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%) 1,743-13,239
Budaya K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%) 5,532 0,013
Negatif 70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)
Tabel 3. Hasil Uji Multivariat Fungsi Paru
95% CI for EXP (B)
Variabel Bebas B Wald Sig Exp (B)
Lower Upper
Sif kerja 1,360 7,074 0,01 3,934 1,453 2,864
Masa kerja 0,893 2,899 0,076 2,454 0,786 7,567
Budaya K3 1,006 6,655 0,081 2,675 0,965 6,654
27
membuktikan bahwa dinding alveoli tikus wistar yang
dikondisikan sif malam mengalami penebalan lebih signifikan dibandingkan sif siang. Penurunan kapasitas
fungsi paru dapat disebabkan kondisi fisik individu
pekerja yang meliputi mekanisme pertahanan paru,
anatomi dan fisiologi saluran pernapasan serta faktor
imunologis.18 Dibuktikan oleh penelitian Siyoum,19 pada tahun 2014 di Etiopia dengan nilai p = 0,001 yang
menjelaskan bahwa gejala gangguan fungsi paru terjadi
lebih banyak pada pekerja sif malam dibandingkan dengan sif lainnya.
Hasil penelitian dengan menggunakan uji kai kuadrat
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masa
kerja dan fungsi paru pekerja tambang batu bara, dikarenakan nilai p > 0,05. Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian Puspita dkk,20 mengenai pengaruh paparan
debu batu bara terhadap gangguan faal paru. Hasil analisis faktor risikonya menunjukkan bahwa masa kerja tidak
memiliki hubungan terhadap kejadian gangguan faal
paru. Dalam penelitian Baharuddin dkk,21 masa kerja 2
- 7 tahun dan 8 - 13 tahun juga tidak memiliki hubungan
dengan gangguan fungsi paru, baru pada masa kerja 14 -
20 tahun mulai terdapat hubungan dengan gangguan
fungsi paru. Beberapa penelitian melaporkan bahwa di
negara yang telah memiliki nilai ambang batas debu,
pneumokoniosis pada penambang batu bara biasanya
terjadi pada individu yang telah bekerja selama > 10
tahun atau paling sedikit 5 - 10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat bukti yang signifikan antara masa
kerja dengan fungsi paru. Jika masa kerja berhubungan,
diperlukan waktu paparan yang cukup lama untuk dapat
menimbulkan kelainan pada faal paru. Jumlah total suatu
zat yang diabsorsi di paru-paru bukan hanya tergantung
pada lamanya seseorang terpapar dengan debu saja, namun perlu diperhitungkan sifat-sifat kimia dan fisik dari
debu itu sendiri yang terhirup oleh pekerja.22
Penurunan fungsi paru tidak hanya disebabkan oleh
faktor pekerjaan maupun lingkungan kerja, tetapi juga
terdapat sejumlah faktor nonpekerjaan yang dapat menjadi faktor yang memengaruhi maupun menjadi variabel
pengganggu. Hal-hal yang dapat memengaruhi seperti
usia, jenis kelamin, kelompok etnis, tinggi badan, kebiasaan merokok, suhu lingkungan, penggunaan alat pelindung diri, metode pengolahan serta jumlah jam kerja/jam
giliran kerja (sif kerja).23
Faktor lain dalam penelitian ini yang menyebabkan
masa kerja menjadi tidak berhubungan dengan fungsi
paru adalah kadar debu. Pada penelitian ini, kadar debu
batu bara merupakan faktor pengganggu yang tidak dapat dikendalikan karena setiap hari semua pekerja tambang batu bara di bagian produksi berkontak langsung
dengan debu batu bara.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan
antara budaya K3 dan fungsi paru pekerja tambang batu
bara dikarenakan nilai p > 0,05. Penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Duma
dkk,1 yang mendesain modul menuju selamat sehat sebagai metode dan media penyuluhan K3 yang efektif
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku K3 (budaya K3) serta tenaga kerja inovatif dalam pengendalian
gangguan kesehatan. Hasil penelitian menyatakan penyuluhan K3 dalam penerapannya selama satu tahun efektif
meningkatkan pengetahuan dan sikap budaya K3, namun belum efektif meningkatkan kesehatan pekerja.
Berdasarkan hasil observasi di PT X, Rantau, Kalimantan
Selatan, nilai ambang batas debu tidak diketahui.
Manajemen perusahaan tambang batu bara hanya menyatakan secara lisan bahwa nilai ambang batas debu dalam
keadaan normal.24 Kadar debu lebih dari 350 mg/m3
udara/hari (OR = 2,8; 95% CI = 1,8 - 9,9) merupakan
salah satu faktor intrinsik yang terbukti berhubungan
dengan penurunan kapasitas paru.6
Berdasarkan kepustakaan, debu yang berukuran antara 5 - 10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas, yang berukuran
antara 3 - 5 mikron tertahan atau tertimbun pada saluran
napas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1 - 3 mikron
disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan atau tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli.25
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan sif
kerja, masa kerja, dan budaya K3 dengan fungsi paru
pekerja tambang batu bara PT X di Kalimantan Selatan.
Daftar Pustaka
1. Duma K, Husodo AH, Soebijanto, Maurits LS. Modul menuju selamat
sehat: inovasi penyuluhan kesehatan dan kesehatan kerja dalam
pengendalian kelelahan kerja. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.
2011; 14 (4): 213-23.
2. Rikmiarif DE, Pawenang ET, Cahyati WH. Hubungan pemakaian alat
pelindung pernafasan dengan tingkat kapasistas vital paru. Unnes
Journal of Public Health. 2012; 1 (1): 12-7.
3. Hermanus MA. Occupational health and safety in mining–status, New
developments, and concerns. The Journal of the Southern African
Institute of Mining and Metalurgy. 2007; 107: 531-8.
4. Susanto AD. Pnemokoniosis: artikel pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan. Journal of Indonesian Medical Association. 2011;
61: 503-10.
5. ILO [homepage in internet]. The prevention of occupational diseases.
World day for safety and health at work. 2013 [cited 2014 Dec 5].
Available from: http://www.ilo.org/safework/events/meetings/
WCMS_204594/lang—en/index.htm
6. Meita AC. Hubungan paparan debu dengan kapasitas vital paru pada
pekerja penyapu Pasar Johar Kota Semarang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. 2012; 1 (2): 654-62.
7. Susilowati IH, Syaaf RZ, Satrya C, Hendra, Baiduri. Pekerjaan, nonSholihah, Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi Paru
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 2015
28
Occupational Medicine. 2007; 36 (2): 299-306.
17. Sholihah Q. Melatonin lowers levels of SOD and number of inflammatory cells BAL wistar strain mice wearing mask PPE, sub acute exposed
by coal dust day and night. Journal Applied Environment Biological
Science. 2012; 2 (12): 652-7.
18. Raju AE, Hansi K, Sayaad R. A Study on pulmonary function tests in
coal mine workers in Khammam District India. International Journal
Physioter Respiratory Research. 2014; 2 (3): 502-6.
19. Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and associated factors among cement workers and civil servants in North Shoa, Oromia
Regional State, North West Ethiopia: Comarative Cross Sectional Study.
Journal Health Affairs. 2014; 2: 74-8.
20. Puspita CG. Paparan debu batubara terhadap gangguan faal paru pada
pekerja kontrak bagian coal handling PT. PJB Unit Pembangkit Paiton
[skripsi]. Jember: Bagian Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan
Keselamatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember;
2011.
21. Baharudin S, Roestam AW, Yunus F, Ikhsan M, Kekalih A. Analisis hasil
spirometri karyawan PT. X yang terpapar debu di area penambangan
dan pemrosesan nikel. Jakarta: Departemen Pilmonologi dan Ilmu kedokteran Respirasi Fakulta Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.
22. Komendong DJWM, Ratu JAM, Kawatu PAT. Hubungan antara lama paparan dengan kapasitas paru tenaga kerja industri mebel di CV. Sinar
Mandiri Kota Bitung. Jurnal Kesmas Universitas Sam Ratulangi. 2012;
1 (1): 5-10.
23. Kurniawidjaja LM. Program perlindungan kesehatan respirasi di tempat
kerja manajemen risiko penyakit paru akibat kerja. Jurnal Respirologi
Indonesia. 2010; 30 (4); 217-29.
24. PT. Hasnur Riung Sinerga. Profil dan gambaran men power di PT.
Hasnur Riung Sinergi Site BRE. Rantau, Kalimantan Selatan: PT Hasnur
Riung Sinergi; 2014.
25. Sholihah Q, Ratna S, Laily K. Pajanan debu batubara dan gangguan pernafasan pada pekerja lapangan tambang batubara. Jurnal Kesehatan
Lingkungan. 2008; 4 (2): 291-311.
pekerjaan, dan psikologi sebagai penyebab kelelahan operator alat Berat
di industri pertambangan batubara. Kesmas: Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional. 2013; 8 (2): 91-6.
8. Kaligis RSV, Sompie BF, Tjakra J, Walangitan DRO. Pengaruh implementasi program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap produktivitas kerja. Jurnal Sipil Statik. 2013; 1 (3) : 219-25.
9. Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and associated factors among cement workers and civil servants In North Shoa, Oromia
regional state, North West Ethiopia: comarative cross sectional study.
Journal Health Affairs. 2014; 2 (4): 74 - 8.
10. Zheng H, Patel M, Hryniewicz K, Katz SD. Association of extended shift
work, vascular fuction and inflammatory markers in internal medicine
resident: a randomized control trial. JAMA. 2006; 296 (9): 1049-54.
11. Kandung RPB. Hubungan antara karakteristik pekerja dan pemakaian
alat pelindung pernapasan (masker) dengan kapasitas fungsi paru pada
pekerja wanita bagian pengempelasan di Industri Mebel “X” Wonogiri.
Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013; 2 (1).
12. Putra DP, Rahmatullah P, Novitasari A. Hubungan usia, lama kerja, dan
kebiasaan merokok dengan fungsi paru pada juru parkir di Jalan
Pandanaran Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah. 2012; 1 (3):
7-12.
13. Cahyana A. Faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan fungsi
paru pada pekerja tambang batubara PT. Indominco Mandiri
Kalimantan Timur Tahun 2012 [research article]. Makassar: Bagian
Kesehatan dan Keselamatan Kerja FKM Universitas Hasanuddin, 2012.
14. National Institute for Occupational Safety and Health . Coal mine dust
exposures and associated health outcomes. NIOSH [online]; 2011 [cited 2015 Jan 4]. Available from: www.cdc.gov/niosh/docs/2011-
172/pdfs/2011-172.pdf.
15. Hendryx M, Melissa M. Relations between health indicators and residential proximity to coal mining in West Virginia. American Journal of
Public Health. 2008; 98 (4): 668-71.
16. Mumuya SHD, Bratveit M, Mashalla YJ, Moen BE. Airflow limitation

Kamis, 14 September 2017

ESAI TENTANG ISMKMI

ESAI IKATAN SENAT MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA
ALVIN NAUFAL JACOB
I1A017095
KESEHATAN MASYARAKAT
ANGKATAN 2017

Didorong oleh adanya keinginan luhur serta kesadaran akan peran, kewajiban, dan tanggung-jawab tersebut maka diperlukan suatu wadah yang berfungsi sebagai suatu sarana untuk bertukar pandangan dan pikiran dalam suasana kekeluargaan guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul di dalam masyarakat ilmiah, khususnya dalam pembangunan nasional berkelanjutan berwawasan kesehatan yang semakin komplek di negara kesatuan Republik Indonesia melalui kontek pergerakan mahasiswa (Selayang pandang Sejarah ISMKMI).
Terus terang, secara umum, kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masih mengkhawatirkan karena banyak sebab persoalan yang cukup serius terkait dengan kesehatan masyarakat adalah masalah gizi dan nutrisi yang belum memadai sehingga muncul penyakit tidak menular berupa gizi buruk dan obesitas. 
Ini persoalan bersama yang harus diatasi secara bersama, terutama berupaya mengembalikan kesadaran masyarakat, Indonesia memiliki kekayaan alam yang banyak dan subur sehingga banyak makanan dan minuman yang bergizi. "Banyak makanan bernutrisi yang bisa dikonsumsi, jadi tidak mungkin ayam mati di lumbung padi.
Masalah kesehatan di Indonesia saat ini dan solusinya, dimulai bersama sekian banyak permasalahan dalam sektor kesehatan seperti :

1. Status kesehatan masyarakat miskin tetap rendah.
2. Beban ganda penyakit. Di Mana pola penyakit yg diderita oleh penduduk yakni penyakit infeksi menular & terhadap disaatyg bersamaan berjalan peningkatan penyakit tak menular, maka Indonesia menghadapi beban ganda terhadap diwaktu ygbersamaan (double burden)
3. Kualitas, pemerataan & keterjangkauan layanan kesehatan tetap rendah.
4. Terbatasnya tenaga kesehatan & distribusinya tak merata.
5. Perilaku warga yg kurang mensupport pola hidup bersih & sehat.
6. Kinerja layanan kesehatan yg rendah.
7. Rendahnya keadaan kesehatan lingkungan. 
8. Lemahnya dukungan peraturan perundang-undangan, kebolehan sumber daya manusia, standarisasi, penilaian hasil penelitian product, pengawasan obat tradisional, kosmetik, product terapetik/obat, 
Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat harus memiliki akses memadai yang mendukung semua itu di antaranya air bersih, listrik, lingkungan yang asri dan rumah ramah lingkungan.
Memang untuk mengembalikan kesadaran masyarakat untuk memperhatikan pola hidup sehat bukan persoalan yang mudah, maka butuh strategi yang tepat,.
Peran Puskesmas sangat menentukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, melakukan edukasi dan sosialisasi tentang kesehatan. "Memang harus ada cara khusus untuk mengubah pola hidup sehat masyarakat yang sangat buruk.
Sebagai mahasiswa kita juga bisa berlatih membantu tugas pemerintah karena background kita adalah mahasiswa kesehatan masyarakat, maka dari itu dibentuklah sebuah organisasi yang bernama Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) merupakan organisasi yang dibentuk pada tanggal 24 Desember 1991, didirikan oleh FKM Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Sumatra Utara, Universitas Airlangga, Universitas Hassanudin. Saat ini ISMKMI beranggotakan sebanyak 56 organisasi mahasiswa kesehatan masyarakat se-Indonesia (hasil MUNAS ISMKMI ke-XII, Makassar).

Sebagai ikatan organisasi mahasiswa se-profesi (IOMS) dibidang kesehatan masyarakat tentunya konteks pergerakan ISMKMI adalah untuk memasyarakatkan paradigma sehat sehingga indonesia sehat dapat terwujud sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.
Sesuai dengan Anggaran Dasar Organisasi ISMKMI Bab IV Pasal 6, maka tujuan dari dibentuknya organisasi ini adalah :
1.      Menjalin persatuan dan kesatuan lembaga eksekutif mahasiswa kesehatan masyarakat dalam rangka pembinaanmahasiswa kesehatan masyarakat sebagai insan yang menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu kesehatan masyarakat.
2.      Meningkatkan kepekaan dan peranan mahasiswa kesehatan masyarakat dalam mengkritisi pembangunan kesehatan masyarakat pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya.
3.      Meningkatkan peran aktif dalam upaya promotif, preventif dan protektif demi mencapai masyarakat yang sehat produktif.

Sedangkan tujuan khususnya adalah meningkatkan kepekaan dan peranan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam mengkritisi pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan kesehatan masyarakat pada khususnya serta meningkatkan peran aktif dalam upaya promotif dan preventif demi mencapai masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dan produktif.
Untuk mencapai tujuan organisasi maka diadakan musyawarah nasional yang diadakan setiap satu periode kepengurusan (dua tahun) yang pada akhirnya dilakukan penyusunan anggaran dasar dan rumah tangga(AD & ART), garis besar haluan organisasi (GBHO), dilanjutkan dengan pemilihan sekretaris jenderal, setelah itu dilakukan pemilihan perangkat kepengurusan nasioanl pada rapat kerja nasional (RAKERNAS).
ISMKMI berbentuk asosiasi yang dikenal dengan sebutan IOMS (ikatan organisasi mahasiswa sejenis) kesehatan masyarakat, konstituennya adalah ORMAWA (organisasi mahasiswa seperti bem/hima fakultas/jurusan kesehatan masyarakat) yang tentunya aspirasinya merupakan representatif dari mahasiswa kesehatan masyarakat yang ada pada ormawa tersebut. Menyadari pentingnya suatu wadah dalam mewujudkan target ormawa (pengembangan tri dharma PT dan prestasi akademik) dan kebutuhan akan realisasi yang lebih luas dari kepentingan mahasiswa menjadi suatu kontribusi untuk bangsa indonesia(khususnya kesehatan masyarakat).
Jadi ISMKMI murni pergerakan mahasiswa dari, oleh, untuk mahasiswa dan masyarakat secara luas (bisa kita lihat contoh seperti, ASEAN, PBB). Jadi sifat IOMS ini tidak akan bisa lepas dari fungsi kelembagaan institusinya masing-masing terutama dekanat masing-masing.
Cara ISMKMI menjalankan roda organisasi sesuai dengan ad/art dan gbho, yaitu dengan musyawarah mufakat dan menghasilkan keputusan tertinggi melalui munas dan rakernas atau hak perogratif sekjen terpilih untuk mengkordinir gerakan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Saat ini ISMKMI beranggotakan 56 institusi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. ISMKMI terbagi menjadi 4 wilayah kerja organisasi, yaitu Wilayah I (Sumatra, Kepri, Babel), Wilayah II (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Kalimantan),Wilayah III (Jawa Tengah, DI Jogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB), dan Wilayah IV (Sulawesi, Ambon, Irian Jaya).
Ketik mengetahui lebih jauh tentang ISMKMI bukanlah hanya sebagai organisasi tapi terlebih sebagai wadah mahasiswa yang berasal dari jurusan kesehatan masyarakat yang memiliki cara pandang hamir sama yaitu menyehatkan masyarakat dan memberikan upaya preventif kepada masyarakat agar tidak terena penyakit terutama di daerah terpencil yang jarang memperhatikan tentang kesehatan mereka.

Maka kita patut berbangga ketika sudah ada wadah yang menghimpun semua mahasiswa se Indonesia untuk berjuang bersama dalam menciptakan masyarakat yang sehat.